11.10.2015

Asiknya Menjadi Moderator

Menjadi moderator sepertinya menjadi sesuatu yang membuat saya merasa kecanduan. Entah kenapa saya suka dengan "peran" yang satu ini. Manakala saya teringat kalau background saya adalah di bidang computer science/informatics, saya jadi merasa peran ini bertolak belakang dengan latar belakang yang saya miliki. Meski demikian saya menikmati peran tersebut.

Menjadi moderator atau MC (master of ceremony) sebetulnya memang bukan pengalaman baru buat saya. Namun selama tinggal di Jerman, pengalaman menjadi moderator di acara yang "serius" masih bisa dihitung dengan jari tangan. Seperti yang terakhir di bulan lalu, di sebuah acara bedah buku, di Jerman. Acara ini terbuka untuk umum, khususnya untuk masyarakat Indonesia di Jerman.







Sebagai panitia kami mengundang seorang penulis buku dengan 11 buku national best-selling, Trinity. Berkat buku The Naked Traveler yang menjadi andalannya, beliau dinobatkan menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di Indonesia, khususnya di bidang pariwisata dan traveling. Konon buku yang kami bedah akan diangkat menjadi film layar lebar di tahun ini. Profilnya begitu menarik. Saya pernah menulis sebuah postingan tentang beliau di sini, dimana saya saat itu hanya menjadi seorang penonton acaranya saja. Beberapa tahun berlalu, saya sama sekali tidak menyangka kalau saya dipertemukan kembali dengan beliau, di Jerman, dan saya yang menjadi moderatornya - sekaligus ketua panitia, bukan penonton lagi. Acara ini dihadiri oleh masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Jerman. Acaranya meriah, menarik, dan sukses. Semakin menarik dengan adanya special performance dari AGT 35 yang membawakan dua buah lagu, dan Berlian yang menunjukan kemampuannya dalam membaca syair/puisi.






AGT 35 (Adrian Nuradiansyah, Bunga Annisa, Satyadharma Tirtarasa) 











Berlian Marsielle

Bersama panitia dan peserta 




Saya teringat ketika pertama kali menjadi moderator. Saat itu saya masih SMP, menjadi moderator untuk simulasi debat di kelas. Berawal dari situ koq saya merasa sepertinya saya punya sedikit bakat untuk jadi moderator atau MC. Pengalaman pun berlanjut dengan menjadi MC di acara ulang tahun teman, di acara-acara kecil seperti pengajian, sampai acara-acara penting seperti talkshow dan seminar. Diam-diam saya juga pernah menjadi seorang penyiar di sebuah radio. Nama udara saya bukan Alfi, jadi kala itu hanya sedikit orang yang tahu kalau suara yang mengudara itu sebetulnya suara saya. Yah, walaupun hanya menjadi seorang penyiar amatir dan beberapa bulan saja, tapi saya anggap itu adalah satu tahap latihan untuk mengasah kemampuan "bicara" saya. Skill saya terlatih melalui acara-acara tersebut, bahwa saya harus bisa bridging, harus bisa menyusun kalimat dengan diksi yang tepat di setiap moment, harus persuasif, harus meng-entertain hadirin, harus cepat tanggap bercakap dengan narasumber, dan lain sebagainya.

Sampai pada akhirnya saya memainkan peran itu kembali di Jerman, di beberapa acara.







Pelatihan Pengasuhan Anak dan Remaja












- Pictures from committees.

10 November 2015
Nur Alfi Ekowati

9.02.2015

Menapakan Kaki di Benua Biru

Benua Asa Part 2


"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang." ~ Imam Syafi'i


Masih segar dalam ingatanku ketika aku meninggalkan rumah kala itu. Pun masih teringat beberapa minggu sebelumnya, saat kepalaku berada di pangkuan mbah putri-ku. Tepatnya di kursi dapur, beliau duduk sambil mengelus-elus kepalaku.

"Ojo sedih maneh, Nduk. InsyaAllah Alfi isa dadi anak sholehah koq. Besok insyaAllah bisa nyenengke Mbah." 
("Jangan sedih lagi, Nak. Insyaallah Alfi bisa jadi anak yang sholehah koq. Besok insyaAllah bisa menyenangkan Mbah.")

Ucapnya lirih dengan terus mengelusku.

Entah apa yang terjadi denganku saat itu aku pun tak tahu. Sungguh. Aku hanya ingat bagaimana malam sebelumnya aku pulang tengah malam dari Jakarta seorang diri untuk mengurus semua keperluan beasiswa dan visaku. Aku bergegas ke rumah simbah.  Dengan baju yang masih belum diganti, serta tas yang masih berada di punggung, tiba-tiba bergegas pula aku memeluknya erat-erat saat kutemui beliau di kamarnya.

"Alfi pengen jadi anak sholehah, Mbah. Alfi pengen bisa nyenengke Mbah."

Seakan mengiba aku menyampaikan kalimat itu pada simbahku pelan-pelan, dengan tangan yang terus erat memeluknya....



Senjata Doa

Aku hanya tahu bagaimana keinginan ini begitu membara, ingin membahagiakan mbahku yang sudah tak muda lagi. Aku ingin memberi hadiah terindah padanya untuk semua andil beliau atas semua berkah yang aku dapatkan selama ini. Doanya mustajab, tak kalah mustajab dengan doa ibuku. Kesederhanaan membawanya pada ketawadhu'an. Ibadahnya adalah senjatanya. Senjata yang telah menemani anak cucunya mencapai cita-cita hidup. Senjata yang juga turut serta mempermudah langkahku. Aku yakin bahwa doa dari orang-orang terdekatku seperti beliau inilah yang telah membuat blessing dari Allah itu nyata adanya.

Aku teringat saat profesorku - orang Jerman - yang memberiku surat rekomendasi beasiswa, di saat kami belum pernah bertemu sebelumnya, hanya obrolan lewat email yang terus saling membalas, dan hanya lewat teleconference via skype, juga kualifikasi curriculum vitae-lah beliau mengenalku. Pun salah satunya karena jasa beliaulah akhirnya aku mendapatkan beasiswa.

Aku teringat bagaimana perjalananku mencari sebuah tempat mengurus dokumen untuk keperluan kuliahku di kampus Italia. Pun berakhir dengan gratis khusus dari para petugasnya, saat yang lain harus membayar sekian juta untuk mendapatkannya.

Aku teringat pula bagaimana aku mendapatkan visa hanya dalam kurun waktu kurang genap dari 3 minggu padahal secara normal pengaju visa lain harus menunggu sampai berbulan-bulan.

Aku teringat saat visaku keluar pukul tiga sore, padahal hari itu pukul 6 sore aku harus sudah check-in di Bandara Soekarno-Hatta. Ini adalah salah satu hal "tergila" dalam seumur hidupku. Pun akhirnya aku bisa sampai di pesawat tepat waktu.

Dan banyak hal lain yang "ajaib" yang tidak bisa aku ceritakan. Semua ini mudah terjadi bagi Allah. Ya, ini kubilang keajaiban. 


Nikmat Tuhan yang Tak Terdustakan



Belum pernah aku merasakan ini sebelumnya. Sekalinya merasakan Allah melemparku ke tempat yang jauh sekalian, sesuai tujuanku. Aku menempuh rute perjalanan Jakarta - Doha - Frankfurt - Leipzig - Dresden seorang diri. Aku teringat bagaimana Allah mempertemukanku dengan sepasang suami istri dari Indonesia saat transit di bandara Doha, Qatar. Mereka datang tepat ketika aku duduk sendirian menunggu waktu di sudut bandara.

Aku teringat bagaimana sesampainya aku di bandara Frankfurt selalu saja ada orang yang menawarkan bantuan untuk mengangkat koperku yang berat. Aku teringat bagaimana dinginnya cuaca saat itu yang sudah memasuki winter. Aku beranikan diri sholat di salah satu sudut stasiun yang sepi. Ya, itu sholat pertamaku di Jerman di tempat umum.


Meski jaket sudah tebal, tapi sejujurnya aku masih merasa sangat menggigil. Aku duduk sendirian dengan menahan rasa dingin. Aku tundukan kepala dan kubaca zikir Al-Ma'tsurat untuk menemaniku dan mengusir rasa dingin. Aku juga teringat bagaimana di dalam kereta seorang anak kecil berbisik-bisik pada ayah dan keluarganya. Entah ada apa denganku sehingga mereka semua menoleh ke arahku. Ternyata mereka menemukan diri ini dalam keadaan pipi yang basah dengan buku zikir kecil di tangan yang sedang aku baca.

Awal perjalanan dari Indonesia semua terasa hambar, sedih tidak, senang pun juga tidak, seakan tak merasakan euforia seperti kebanyakan orang saat pertama kali ke Eropa. Tapi harus kuakui, aku merasa terharu dengan semua keajaiban yang Allah berikan. Hingga tak sadarkan diri aku meneteskan air mata saat di kereta kala itu. Segera kuusap dan kupalingkan muka ke arah jendela, seakan menunjukan dan berkata pada si anak kecil itu - "Aku nggak kenapa-napa, Dik." - walau sebetulnya mata masih terus berkaca-kaca, dan lagi, air mata menetes, bukti tak henti-hentinya hati ini berucap syukur.


Tepat, Tak Lebih

Menuju Dresden, salah gerbong. Nampaknya semua baik-baik saja, tapi rupanya setelah sekian lama duduk di kursi kereta yang begitu nyaman, ditemani obrolan dengan sepasang suami istri dari Brazil, ternyata salah tempat. Rupanya aku duduk di gerbong VIP. Aku khilaf karna tak tahu. Tak seharusnya duduk di tempat itu, karna tiketku adalah tiket biasa. Aku tersadar saat seorang bapak pemeriksa tiket datang dan mengatakan padaku tentang posisi seharusnya. Tapi sekali lagi, Allah berbaik hati, si bapak petugas tak marah, malah dengan ramahnya mempersilakan duduk di kursi tersebut saja sampai Dresden, tak perlu pindah.

Dan 19 November 2013, saat di mana hari itu adalah deadline hari terakhirku untuk sampai di Dresden, tak boleh lebih, begitu kata International Office kampus TU Dresden dalam suratnya padaku. Meski hari sudah cukup petang, Allah mengijinkanku untuk sampai tepat di tanggal tersebut, dan tak lebih.

Aku berpikir semua ini benar-benar keajaiban. Allah itu ada. Dia bekerja lewat tangan-Nya untuk mengetuk dan menggerakan semua orang yang aku temui di perjalanan,  memberi kemudahan pada tiap langkah, mengatur tiap detik untukku agar waktu jangan terlalu cepat berlalu dan menyampaikanku di sini tidak lebih dari deadline terakhir. Sungguh, Allah itu ada.







Bersambung ....








The Previous Chapter:

Read Also:




2 September 2015
Nur Alfi Ekowati

5.29.2015

Manipulasi String di C#

Ini pertama kalinya untuk saya menggunakan C# dengan serius untuk sebuah project. Dari sekian banyak file dalam trunk kompilasi hasil pekerjaan saya dan beberapa orang, ada satu file yang saya buat untuk manipulasi string. Codes yang saya tulis dalam satu file ini tidak sampai ribuan baris, hanya ratusan. Terdengarnya memang tidak begitu sulit, tapi rupanya saya menemukan kendala untuk menghasilkan suatu output yang benar-benar valid, hasil dari proses manipulasi tersebut.

Saya tidak akan share tentang codes yang ada di project saya. Tapi saya ingin membagikan beberapa contoh method manipulasi string yang penting dan sering digunakan. Semoga bermanfaat.



Join String

using System;
class Program
{
static void Main()
{
string[] arr = { "apple", "orange", "durian" };
// "string" can be lowercase.
Console.WriteLine(string.Join(",", arr));
// "String" can be uppercase.
Console.WriteLine(String.Join(",", arr));
}
}


Removes Duplicate Items From File

List myList = new List();
using (StringReader reader = new StringReader(File.ReadAllText(@"d:\folder\file.txt")))
{ string outputline = null;
while ((outputline= reader.ReadLine()) != null)
{
if (!myList.Contains(outputline))
{
myList.Add(outputline);
}
break;
}
}

Splitting String with Uppercase

string output = "";
foreach (char letter in str)
{
    if (Char.IsUpper(letter) && output.Length > 0)
     output += " " + letter;
    else
     output += letter;
}
Remove Char in String

using System;
class Program
{
static void Main()
{
const string sentence= "Aku Dan Tania";
string result1 = sentence.Remove(1, 1);
const string sentence2= "Aku Alfia";
string result2 = sentence2;
int index1 = sentence2.IndexOf('A');
if (index1 != -1)
{
result2 = sentence2.Remove(index1, 1);
}
Console.WriteLine(result1);
Console.WriteLine(result2);
}
}

Remove Char with Replace

using System;
public class Example
{
public static void Main()
{
String s = "aaa";
Console.WriteLine("The initial string: '{0}'", s);
s = s.Replace("a", "b").Replace("b", "c").Replace("c", "d");
Console.WriteLine("The final string: '{0}'", s);
}
}

5.01.2015

Sejengkal Antara Indonesia dan Eropa

Benua Asa Part 1


Ada Harga Mahal


Nduk, sing ngati-ati. Sing lurus lakune, ndek mengko dadi wong sukses. ”
(Nak, berhati-hatilah. Yang lurus jalannya, biar nanti bisa jadi orang sukses.)

Gendung…sing sehat, sing pinter yo. Mbah wis tuwo, nek isa ketemu Alfi maneh ya syukur, nek ora…sing ikhlas, ojo mikir Mbah terus. ”
(Nak…yang sehat, yang pinter ya. Mbah sudah tua, 90 tahun lebih, kalau bisa ketemu Alfi lagi ya syukur, kalau enggak….ya yang ikhlas, jangan mikir Mbah terus.)

Aku cium tangan satu per satu keluargaku. Simbah kakung -yang dengan tangan gemetarnya karna usia- memelukku erat-erat. Aku tahu Si Ibu merasa lebih kehilangan, tapi rupanya Ibu terlalu malu memperlihatkannya. Aku melihat mata-mata yang berkaca dari mereka, tertahan, tapi tak bisa dibohongi. Mungkin apa yang mereka rasakan sama dengan yang aku rasakan saat itu, tenggorokan yang sakit karna menahan apa yang seharusnya diekspresikan. Pakdeku berbeda, sempat terang-terangan meneteskan air mata di depanku, menceritakan masa-masa lalu yang pahit, juga harapan-harapannya untukku. Beliaulah salah satu orang yang paling mendukung aku untuk melangkah.

Aku bergegas keluar dari rumah. Rupanya ada sebuah taksi sudah terparkir di depan gang, sengaja dipesankan oleh pakde untukku. Tentu ini sangat bernilai buatku. Dengan tas dan koper seberat 40 kg yang pada beberapa bagiannya terlihat masih fresh hasil sulaman ibuku karna sudah tua dan sedikit sobek, aku masuk ke mobil taksi dengan lambaian tangan. Mereka tak bisa berbohong, aku melihat mereka masih memperhatikan taksi yang kutumpangi, meski sudah terlampau jauh taksi melaju. Satu yang tertinggal, aku tak sempat berpamitan dengan adik kecilku. Di jalan aku melihat dari balik jendela mobil, dia sedang bersepeda menuju rumah, membawa gula yang dibelinya dari warung, permintaan Si Ibu. Sayang, dia tak cukup mendengar suaraku memanggil namanya. Pasti dia akan kecewa mendapati Si Mbaknya sudah tidak ada di rumah….

Taksi terus melaju. Menjauh dan terus menjauh. Suasana hening. Hanya ada suara mesin mobil yang kudengar. Pikiranku melayang ke mana-mana, mengingat betapa tidak mudahnya semua yang harus kulalui sebelum ini.

Aku benci harus pergi keluar kota A, B, C, dan D saat weekend disaat teman-temanku yang lain mungkin sedang berbaring santai di atas kasur dengan gadgetnya. Aku benci harus tidur di stasiun X dan Z menunggu kereta. Aku benci tergopoh-gopoh bertanya alamat kesana-kemari. Aku benci harus berpura-pura sok cool menghadapi calo-calo preman di terminal Y. Aku benci harus menyaksikan seorang dari mereka membanting genggaman uang recehan ke lantai di depanku karna melihatku terlalu cuek. Aku benci harus berlari-lari di tengah malam hujan deras mengejar bus terakhir di terminal N. Aku benci melihat jari kakiku melepuh berpanasan di jalan raya di Jakarta. Aku benci harus terduduk lemas di depan gedung-gedung pencakar langit. Aku benci berjalan jauh dengan sesenggukan di tepi jalan raya metropolitan yang terik. Aku benci menjalani semuanya seorang diri. Aku benci.

Tapi aku lebih benci lagi menjadi orang yang bodoh dan tak berharga….

Maka langkah ini aku tempuh dengan peluh keringat yang bercucuran…serta bulir-bulir doa yang tiada terputus.

Mobil taksi terus melaju.


Purwokerto, sebuah kota yang tidak terlalu besar di Jawa Tengah. Damai dan tenang, itu kesan utama yang banyak orang bilang tentang kota ini. Begitupun dengan pendapatku, sama. Ibuku berasal dari kota ini, sedangkan bapak asli Surakarta. Meski demikian, logat bicaraku mengikuti logat Purwokerto, karna memang aku terlahir di sana. Karenanya di mana saja aku berada sepertinya aku punya kesan tersendiri di mata kawan-kawan sepergaulan. Terlebih dengan karakterku yang katanya unik. Sering menjadi topik untuk bercanda, menyenangkan. Ya, menyenangkan, karna bisa membuat orang bergelak tawa dan bahagia. Tapi, pernah juga mengalami hal sebaliknya, diejek, dianggap remeh. Rasanya? Sakit hati dan sedih. Tapi justru ini adalah ekspresi yang sempat menjadi penyesalanku. Tahu kenapa?

Tak seharusnya aku sedih, juga sakit hati yang berlebih. Karena sebenarnya ada banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari peristiwa seperti itu, yang mungkin tidak akan bisa didapat oleh mereka yang terlampau kenyang dengan pujian dan sanjungan setiap waktu, yang pada akhirnya mungkin akan menjadikannya takabur. Aku jadi mampu belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku jadi semakin kuat. Malu dan menyesal sekali rasanya, tak perlulah aku seperti itu lagi. Karena sebetulnya Allah sedang menunjukan bukti padaku bahwa Dia begitu sayang dengan diri ini, melebihi apa yang aku dan mereka sangkakan. Teriring doa yang baik untuk mereka yang sudah berbaik hati menyempatkan diri untuk “mengoreksi” apa yang kurang dari aku, pasti teriring.

Kawan, meski aku bukan anak gaul dari kota besar, tapi itu bukan berarti aku tak boleh bermimpi besar. Meski aku bukan dari keluarga yang kaya raya, tapi bukan berarti aku tak bisa kaya akan harapan-harapan. Aku punya hak yang sama dengan yang lainnya. Aku punya cita-cita. Aku punya impian. Aku punya tujuan hidup. Maka dengan segala niat yang cukup lama aku pupuk, aku pendam diam-diam sebuah asa, Eropa!

Eropa adalah salah satu mimpi dari sekian banyak impian dalam hidupku. Untuk mereka yang konglomerat, mungkin keluar negeri adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang perlu dibesarkan, atau bahkan dieluh-eluhkan, bukan. Tapi buatku, seorang anak kampung -yang bahkan di masa kecilnya beberapa detik saja melihat pesawat terbang di langit adalah hal yang menghebohkan- pergi keluar negeri menjadi sebuah cita-cita tersendiri. Lebih tepatnya aku ingin pergi merantau, hidup di luar negeri, mencari ilmu dan bekerja keras di sana. Dan Jerman adalah negara tujuan utamaku.


Menapakan kaki hingga sampai di sini perlu perjuangan, Kawan. Aku yakin semua orang Indonesia yang sampai di sini memerlukan perjuangan itu, termasuk mereka yang dari golongan kaya raya. Hanya bedanya mungkin mereka tak perlu terlalu pusing memikirkan materil uang untuk mencapai tempat ini. Sedangkan aku? Aku harus menabung sendiri untuk segala macam keperluan yang dibutuhkan, harus memutar otak agar bisa mencapai apa yang aku citakan. Mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari, kalau-kalaulah saat itu akan benar-benar terjadi.

Hingga sebuah kesempatan itu datang di suatu hari. Aku mengenal seorang professor hebat di Jerman. Dan singkatnya, garis nasib bicara: aku mendapatkan beasiswa. Ya, beasiswa membawaku ke sini -ke Dresden- di tahun 2013. Alhamdulillah.


Maka sejatinya semua yang kuperlukan bukanlah semata-mata tentang uang.

Semacam hukum kausalitas, beasiswa hanyalah sebuah hasil, bonus, dan efek samping, yang mungkin saja kehadirannya datang dari arah, jalan, dan waktu yang tidak disangka-sangka. Sedangkan sikap mental, fisik, pikiran, dan doa yang kuat adalah caranya. Cara yang ditempuh. Cara yang bisa menggantikan posisi bermiliar-miliar dolar dari seorang konglomerat, yang tidak ada pada diriku saat itu, karna sadar aku bukanlah anak dari seorang konglomerat.

Maka kusampaikan, bahwa ada harga mahal yang harus dibayar jika ingin mencapai sesuatu yang baik, terlebih untuk sebuah masa depan….


Bersambung....




Nur Alfi Ekowati
Dresden, 1 Mei 2015

Images are from Google Image and Google Map.

4.01.2015

Kisah Lukmanul Hakim


Alkisah, pada suatu hari Lukman Hakim mengajak anaknya ke pasar dengan menuntun keledai. Di jalan mereka bertemu dengan seseorang. Orang itu mengatakan, “Bodoh sekali bapak dan anak itu, bawa keledai tapi tidak dinaiki, malah dituntun." Mendengar omongan ini, anaknya kemudian naik ke atas punggung keledai.

Di jalan mereka lalu bertemu dengan orang yang lain, orang itu lalu mengatakan, ”Durhaka sekali anak itu, masak bapaknya disuruh jalan kaki, sedangkan dia malah enak-enakan naik keledai”. Mendengar ucapan orang kedua, anaknya langsung turun, dan menyuruh bapaknya (Lukman Hakim) untuk naik ke atas keledai.

Di tengah perjalanan, kembali mereka bertemu dengan seseorang yang lain, sebagaimana kedua orang sebelumnya, orang ketiga ini juga mengomentari, “Bagaimana Bapak ini, tega sekali naik keledai sendiri, sedangkan anaknya disuruh jalan kaki."

Tidak tahan mendengar komentar ini, anaknya lalu naik ke punggung keledai. Jadilah mereka berdua naik keledai berjalan ke arah pasar. Seperti sebelumnya, di tengah jalan mereka bertemu dengan orang keempat, orang ini lalu berkata “Tega-teganya bapak dan anak itu, keledai kecil seperti malah dinaikin berdua.”

Anaknya langsung turun, kemudian berlari dan kembali lagi dengan membawa kayu dan seutas tali. Keledai itu lalu diikat dan dipikul oleh mereka berdua. Akhirnya mereka sampai di pasar, ternyata ketika dijual keledainya tidak laku, karena tidak ada orang yang mau membeli keledai yang lemah. Sang anak kemudian bertanya kepada Lukman Hakim. “Bapak kan ahli hikmah, yang sering dimintai solusi oleh masyarakat, bagaimana ini yang terjadi dengan kita sekarang?”

Kemudian Lukman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau mengikuti pendapat orang lain yang tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan mereka belaka.”

Kemudian dilanjutkannya dengan mengutip kata-kata Ali bin Abu Tholib, ”Dan janganlah engkau mencari kebenaran (al-haqq) dari makhluk, tetapi temukanlah kebenaran (al-haqq) yang dari Rabb terlebih dahulu baru kemudian engkau tentukan siapa-siapa yang barada di sana.”

Dari kisah ini, Lukman mengajarkan hikmah pada anaknya mengenai bagaimana seharusnya mengambil keputusan dan bagaimana bersikap atas keputusan yang telah diambil.

Kepada anaknya Lukman mengatakan ”Wahai anakku, sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang-orang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang harus menjadi pertimbangannya.”


Hikmah:
Menjadikan Allah sebagai satu-satunya pertimbangan sesungguhnya membuat jiwa tenang dan jauh dari kebimbangan. Hanya Allah yang kuasa atas baik dan buruk, bahagia dan bencana, sulit dan mudah, maupun tenang dan gelisah.

Hikmah lain yang terkandung, teruskanlah bekerja demi kepentingan mulia. Jangan hiraukan celaan dan tanggapan-tanggapan jelek orang lain, tapi maafkanlah mereka. Karena tidak ada jalan untuk memuaskan mereka semua.

Ingatlah, kebenaran datangnya dari Allah. Kebenaran bukan diukur oleh banyaknya orang yang mendukung atau kekuatan yang mempertahankannya. Kebenaran tetaplah kebenaran walaupun yang menerima hanya seorang saja.



This is a familiar story with rewritten version.
Dresden, 2 April 2015
The picture is taken from this.

12.09.2014

Eropa Mengajarkan Banyak Hal

Hampir setiap hal di dunia ini ada sisi positif dan negatifnya, termasuk hidup di Eropa. Benua yang telah melahirkan sekian banyak ilmuwan sekaliber Galileo, Newton, dan Einstein ini memang pantas dijadikan tempat untuk menimba ilmu. Tak heran begitu banyak pendatang dari luar benua berbondong-bondong untuk belajar di sini.

Sebagai representasi, poin-poin berikut adalah sebagian kecil dari sisi positif yang bisa dicatat berdasarkan refleksi diri selama setahun ini, dan juga observasi dari berbagai sumber. Semoga bisa diambil hikmah dan manfaatnya.

Eropa Mengajarkan untuk Tidak Melupakan Guru, Dosen, dan Orang-Orang yang Pernah Berjasa Besar
Orang yang jauh-jauh datang ke sini untuk menimba ilmu, sosok guru atau dosen adalah sosok yang begitu layak untuk diingat. Tanpa adanya mereka yang mengajar baca hitung tulis, susah juga untuk mencapai titik lompat sejauh ini. Maka memang benar kata peribahasa, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tanyalah pada seribu guru, mereka adalah salah satu orang pertama yang akan merasa senang jika anak didiknya maju. Maka mengingatnya adalah salah satu bentuk ucapan terima kasih.

 

Eropa Mengajarkan untuk Memperbaiki Diri
Jauh-jauh ke Eropa jika kemudian tidak menjadi lebih baik dari hari kemarin, adalah suatu kerugian. Apa yang salah di masa lalu memang selayaknya diperbaiki. Karena jauh-jauh raga ini "dilempar" ke tanah ini bukan untuk belajar sains saja, tapi juga untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, termasuk karakter. Maka yang bisa memanfaatkan momentum seperti ini adalah mereka yang beruntung.

Eropa Mengajarkan untuk Ikhlas
Ini pernah dialami oleh beberapa orang yang menceritakan kisahnya pada saya. Saya pun tak luput dari hal yang satu ini. Pernah disakiti oleh teman (saat di Indonesia) karena ucapannya. Rasanya luar biasa sakit. Tak ada satu orang pun yang tahu apa yang terjadi di belakang layar atas luapan emosi yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

Memaafkan? Sudah. Melupakan? Sudah diupayakan. Tapi ternyata trauma adalah hal yang tidak bisa dibohongi. Hingga detik ini terkadang tetiba sedih sendiri. Maka jauh-jauh datang ke Eropa pun adalah untuk belajar ikhlas.




 
Eropa Mengajarkan untuk Kuat
Ternyata hidup di Eropa bukanlah tentang berfoya-foya (meskipun semua tergantung dari tujuan utama masing-masing individu). Bagi seorang pelajar, pontang-pantingnya mengejar kredit kuliah di sini adalah sebuah hal yang lumrah ditemui. Hanya dinyatakan lulus satu mata kuliah pun adalah satu hal yang sangat disyukuri. Maka Eropa memaksa untuk kuat. Perpustakaan ramai orang belajar adalah hal yang lumrah di sini.






Eropa Mengajarkan untuk Down to Earth
Jawara sekolah di Indonesia nyatanya bukan jaminan di sini bisa mengikuti materi dengan baik. Karena itulah, berkaca dari para ilmuwan di sini patut menjadi satu hal yang wajib dilakukan. Rendah hati meski kaya ilmu. Ini nasihat juga untuk diri saya sendiri.


Eropa Mengajarkan untuk Lebih Toleran dan Open-Minded
Keberagaman di Indonesia terkadang belum cukup untuk bisa menghargai orang lain yang berbeda dan membuat pikiran terbuka.


Eropa Mengajarkan untuk Cuek
"Siapa bilang mendapat beasiswa ke Eropa membuat semua orang di sekitarmu senang? Orang sinis pun ada, yang selalu mencari celah burukmu," kata X.

Adalah suatu hal yang mustahil ketika kita mengharap semua orang suka pada kita. Yang namanya manusia pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Jangankan kita yang manusia biasa, sebaik-baik manusia seperti nabi saja ada yang membencinya. Maka cuek terkadang menjadi obat yang manjur. Tutup kuping dari kata-kata yang hanya membuat lelah dan sia-sia. Karena mendengarkan setiap ucapan orang tidak akan membuat kita maju. Fokus untuk kebahagiaan orang-orang yang kita sayangi adalah hal yang lebih patut untuk dipikirkan.



Eropa Mengajarkan untuk Bisa Membagi Cinta dan Cita-Cita
"Lagi apa, Nak? Dari tadi koq belum balas pesan Bapak?"
"Bu'e mau berangkat arisan dulu sekarang. Nanti tolong ditelpon lagi ya."

Ah, ini adalah hal yang klasik. Tapi seriously, semakin jauh pergi dari rumah akan semakin tersadar untuk selalu jaga komunikasi dengan keluarga. Karena semakin jauh jarak semakin mudah pula mereka akan merindukan. Lupakan sejenak kesibukan yang ada, beri quality time untuk mereka.

  





Eropa Mengajarkan Siapa yang Benar-Benar Sahabat
Ada yang bertahun-tahun tak nampak tiba-tiba menghubungi. Ada yang sering bertegur sapa tiba-tiba menghilang. Eropa menguji dan menyeleksi siapa saja yang bertahan menemani di kala susah ataupun senang, di saat jauh ataupun dekat. Meskipun hanya bersapa, "Hey, kamu apa kabar?", sudah menjadi satu penilaian tersendiri.


Eropa Mengajarkan Tentang Kedisiplinan
Menunggu tram di halte saat musim dingin tidak disarankan berlama-lama, atau resikonya tubuh akan kedinginan, masuk angin, bisa sakit. Maka melihat jadwal kedatangan tram adalah hal yang cukup penting, kalau tidak nanti bisa terlambat dan harus menunggu lama lagi. Itu adalah salah satu contoh kecil tentang fungsi disiplin di sini.

Eropa Mengajarkan untuk Lebih Memperkaya Resep Masakan
Belajar memasak sejak bangku sekolah nyatanya belum cukup puas untuk memperkaya variasi resep makanan. Untuk orang Asia, memasak sendiri adalah hal yang perlu dilakukan, mengingat tentang kehematan, tentang selera, juga (mungkin untuk yang muslim) tentang kehalalan.


Eropa Mengajarkan Bahwa Ilmu Pengetahuan Itu Pahit Rasanya
Ini adalah salah satu kalimat epilog dalam film 99 Cahaya di langit Eropa. Sangat benar, pelajar dari Indonesia akan tersentak dengan rasa ilmu pengetahuan di sini. Cobalah sendiri datang kemari.



Eropa Mengajarkan untuk Lebih Cinta Tanah Air
"Dulu gue boro-boro ngomong nasionalisme. Tapi semenjak hidup di sini rasa cinta sama Indonesia koq tiba-tiba jadi semakin berasa. Mungkin ini ga akan terjadi kalau gue ga pernah ke sini," kata Y. 
 
Tapi perlu digarisbawahi, bahwa tiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk mencintai sesuatu, termasuk untuk tanah air. Ada yang sibuk berkarya di luar negeri dalam jangka waktu yang lama, membuat penemuan besar yang tidak bisa dilakukan dengan segala keterbatasan di tanah air, mematenkan dengan namanya, kemudian mengharumkan nama bangsa. Itu bentuk dia untuk mencintai Indonesia. Ada pula yang langsung pulang ke tanah air, mengabdi di daerah pedalaman dan ikut serta dalam perbaikan/kemajuan bangsa. Tak lupa terhitung juga mereka yang ingin cari pengalaman dulu beberapa tahun, kemudian baru pulang. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri.

Eropa Mengajarkan Bahwa Belajar Bukanlah Hal yang Sepele
Karena cukup banyak hal yang tidak mudah dicapai di sini. Maka belajar dan mengalahkan rasa malas adalah kuncinya. Mereka yang tidak mau belajar hanya akan terlindas oleh arus persaingan zaman yang begitu deras di sini.



Eropa Mengajarkan untuk Lebih Mandiri
Mandiri adalah kunci lain untuk lebih bertahan hidup di sini. Pun semua itu membutuhkan sikap mental dan daya juang yang tinggi.





Nur Alfi Ekowati
Dresden, 12-10-2014


11.25.2014

Apa Itu Computational Logic?

Kebetulan sekali saya mendapatkan beasiswa untuk master di jurusan ini, tepatnya di kampus Technische Universitaet Dresden (Dresden University of Technology, Germany), disingkat TU Dresden. Sebetulnya sempat menjadi kandidat sebuah beasiswa X, tapi karena mempertimbangkan beberapa hal akhirnya saya mengundurkan diri. Nasib pun berkata, saya berkesempatan menerima beasiswa lain, yakni beasiswa yang sekarang sedang saya jalani. Melihat ini adalah peluang yang bagus, maka saya pun harus rela meninggalkan pekerjaan saya saat itu. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan sekarang. Jika pun harus bercerita tentang detail lika-likunya saya sampai di Eropa, lebih baik saya tulis terpisah.



CL adalah Sebuah Bidang Ilmu dan Jurusan

Computational Logic (disingkat: CL) adalah salah satu program kuliah internasional yang diselenggarakan oleh TU Dresden. Skema programnya ada dua macam yaitu local master dan joint/multiple degree master. Local master artinya si mahasiswa berkuliah selama masa studinya sampai lulus di TU Dresden saja. Sedangkan joint degree master berarti si mahasiswa berkesempatan pula untuk mengambil joint kampus di luar Jerman, sesuai dengan yang ditawarkan. Alhamdulillah saya diterima di program joint degree, yang mana saya pun melaksanakan kuliah selama satu semester (semester kedua) di negara lain, yaitu di kampus Freie Universitaet Bozen-Bolzano (Free University of Bozen-Bolzano, Italy), disingkat UniBZ.



Program ini juga memiliki kerja sama dengan tempat riset di Australia, sehingga memungkinkan mahasiswanya untuk melaksanakan riset di sana selama periode tertentu. Namun ini bersifat opsional, tidak wajib.

Mahasiswa CL adalah kumpulan mahasiswa dari berbagai negara lintas benua, seperti Indonesia, Jerman, Vietnam, China, Palestina, Pakistan, India, Ukraina, Spanyol, Italia, Yunani, Mexico, USA, Bolivia, Moldova, Turki, Mesir, dan lain sebagainya. Kebetulan sekali di tahun 2013 jumlah mahasiswa dari Indonesia memecahkan rekor, sebanyak 3 orang (saya dan dua orang kawan dari Universitas Indonesia, Alifah dan Prildy - si anak-anak keren), yang mana mahasiswa dari negara lain rata-rata hanya satu orang saja.

Jurusan ini mempertemukan saya dengan mahasiswa jenius dari negara-negara tersebut. Saya bertemu teman-teman dengan track record yang bagus. Ada yang berpengalaman kerja di perusahaan ternama di USA, para logic expert, sebagian lagi ada anak-anak akselerasi dengan prestasi cemerlang. Ada pula teman yang telah lulus master, diterima S3, kuliah master lagi di CL. Sebuah kebahagiaan tersendiri dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka dan berharap atmosfir kejeniusannya tertular pada saya. (Silakan klik link ini untuk display foto grup CL.)

CL adalah salah satu jurusan yang jarang ditemukan. Sejauh yang saya tahu jurusan ini hanya diselenggarakan oleh beberapa kampus saja, itu pun di Eropa. Namun demikian, saya dengar di Indonesia ada satu kampus yang menyelenggarakan mata kuliah CL dengan bobot 4 SKS, tapi bukan sebagai jurusan.


CL sendiri merupakan sebuah bidang ilmu perpaduan antara ilmu komputer, matematika, dan filosofi. Sehingga mahasiswa yang kuliah di jurusan ini harus memiliki background pendidikan bachelor diantara bidang-bidang ilmu tersebut. Salah satu requirementnya pun harus pernah mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan logic, matematika diskret, Artificial Intelligent (AI), atau sejenisnya. CL juga bisa disebut sebagai akarnya matematika, ilmu komputer, logic, dan AI.

Jika di dunia kedokteran ada istilah spesialis, CL adalah sub-spesialis dari spesialisnya Computer Science, begitu kata seorang senior. Meskipun sepertinya beda pendekatan dengan AI, tapi CL dapat dibilang sebagai dasar yang perlu dipelajari jika ingin tahu detail dari AI dan bidang-bidang lain yang searah.


Lalu seperti apa bayangan material yang ada di benak kalian saat mendengar nama CL?

Sejauh saya mengikuti kuliah hingga awal semester 3 ini, secara umum materi yang saya dapatkan adalah tentang basic-advance logic, logic system, logic-constraint programming, description logic, ontology dan teori databasenya.

Untuk tingkat kesulitannya, menurut saya jurusan ini cukup berat. Mungkin karena dasar-dasar materi logic belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Sebagian teman bilang jurusan ini adalah jurusan abstrak, karena banyak materinya yang abstrak dan sering bergulat dengan theorem, lemma, dan corollary beserta cara provingnya (intinya banyak teori dan rumusnya). Teori yang dipelajari juga mendetail sekali. Selain itu load materi yang perlu dipelajari pun begitu banyak. Mungkin ini bagian dari gaya pendidikan di sini yang memang suka mendetail dalam membahas suatu ilmu.

Untuk menambah pandangan bagaimana CL itu, berikut saya beri sedikit contoh bayangan tentang materi dasar logic di minggu pertama awal perkuliahan.


Bagi yang suka tantangan, jurusan ini justru akan mengasyikan dan bisa dijadikan alternatif pilihan jika ingin melanjutkan kuliah master. Tapi disarankan untuk mempersiapkan mental sekuat baja dan sikap pantang menyerah untuk menjalaninya.



Nur Alfi Ekowati
[26-11-2014]
-The example is from Logic professor of TU Dresden.
-Credit: CL student (Sopo P. for the group picture link) and wikipedia (this for SLUB picture)